Kamis, 30 Juli 2009

Karya Ilmiah HIV

MARI BICARA TENTANG HIV/AIDS

HIV/AIDS

Disusun oleh :

Disusun Oleh :

Wahyu Wijiastutik C. (7736)

Yenni Afriyani (7738)

XI IPA 2

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 59 JAKARTA TIMUR

2008

Lembar Pengesahan

Karya tulis ini telah diterima dan disahkan oleh saya.

Jakarta, 30 Mei 2008

Guru Pembimbing

Tri Wulandari

NIP. 130672381

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat dan rahmat, hidayah dan inayah-Nya akhirnya karya tulis ini dapat kami kami buat dengan judul Mari Bicara Tentang HIV/AIDS”.

Dalam penulisan kaya tulis ini kami berusaha menyajikan bahan dan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dicerna isinya oleh para pembaca, khususnya keluarga besar SMA Negeri 59 Jakarta Timur.

Kami menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna, masih terdapat kekurangan dan kekeliruan maka kami senantiasa menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun dan dapat memperbaiki serta melengkapi karya tulis ini.

Harapan kami semoga karya tulis ini dapat bermanfaat serta tercatat sebagai suatu amal sholeh.

Jakarta, 30 Mei 2008

ii

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ………………………………………………………………... i

Kata Pengantar ………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi …………………………………………………………………..………… iii

BAB 1 Pendahuluan …………………………………………………………............. 1

I.1 Latar Belakang …………………………………………………………….. 1

I.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………. 2

I.3 Tujuan ………………………………………………………………........... 3

I.4 Sistematika Penulisan ………………………………………………............ 4

BAB II Munculnya HIV/AIDS di berbagai Negara………………………...………... 5

II. 1 Sejarah Timbulnya HIV/AIDS ………………………………….………… 5

BAB III Mengenal Penyakit HIV/AIDS ……………………………………………... 9

III.1 Pengertian HIV/AIDS …………………………………………..………... 9

III.2 Tahap-tahap infeksi HIV/AIDS ……………………………….…………. 11

III.3 Gejala HIV/AIDS ……………………………………………..…............. 12

III.4 Cara Mencegah Penularan HIV/AIDS ……………………….…………… 13

III.5 Cara Mengetahui Terinfeksi HIV/AIDS ………………………................. 14

III.6 Penyebaran HIV/AIDS …………………………………………………... 15

III.7 Efek Samping Obat HIV/AIDS ………………………………….............. 17

ii

BAB IV Penutup ……………………………………………………………………... 21

IV.1 Kesimpulan ……………………………………………………………….. 21

IV.2 Saran ……………………………………………………………………… 21

Daftar Pusaka ………………………………………………………………………… 22

iv

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hidup seperti tangga dari bawah keatas, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dan tua. Masa anak-anak biasanya dari 0-10 tahun, remaja antara 10-19 tahun, dewasa 19 tahun keatas. Masa remaja biasanya dapat disebut sebagai masa purbertas. Pada masa ini banyak sekali perubahan pada remaja. Perubahan yang lebih terjadi pada masa ini yaitu perubahan tubuh atau fisik. Perubahan ini juga terjadi secara psikologis seperti perubahan pikiran, adanya perasaan dengan lawan jenis, keinginan. Namun semua itu wajah dan normal, remaja tidak perlu khawatir melihat ada perbedaan pada dirinya. Tetapi ada pula remaja yang tidak dapat menahan hawa nafsunya, hingga remaja tersebut dapat terjerumus dalam hel-hal yang negatif yang berdampak pada dirinya sendiri atau pun orang lain. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Universitas Indonesia pada tahun 2000, menunjukkan bahwa orang tua dan guru merupakan sumber informasi utama bagi remaja untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan reproduksinya, misalnya haid/menstruasi, kehamilan, penyakit-penyakit seksual.

1

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan bahwa kemampuan efektif seseorang untuk menghadapi berbagai tuntunan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari mempunyai peranan penting untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dan keterampilan untuk hidup sehat merupakan salah satu hal yang dipandang sangat relevan bagi peningkatan kesehatan dan kualitas kesejahteraan remaja.

I.2 Rumusan Masalah

Kegiatan menyampaikan informasi mengenai kesehatan sistem reproduksi, HIV/AIDS kepada kelompok remaja, bukan suatu hal yang mudah tentunya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya mitos di masyarakat yang cenderung mentabukan pembicaraan seputar seks. Selain itu, pada umumnya remaja mempunyai karakteristik tidak mudah percaya apabila tidak mengalami persoalan ini sendiri. Dengan cara mengajak atau melibatkan remaja memecahkan persoalan kesehatan reproduksi, terutama penyakit yang dikenal dengan nama HIV/AIDS, mereka dapat menemukan dampak yang ditimbulkan dari HIV/AIDS, gejala-gejala HIV/AIDS, obat HIV/AIDS, dan lain-lain.

2

I.3 Tujuan

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan sebagai berikut :

I.3.1 Memotivasi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar

I.3.2 Melatih diri mengembangkan ide dan kreativitas

I.3.3 Mengetahui dampak dari HIV/AIDS

I.3.4 Mengetahui lebih luas tentang penyakit HIV/AIDS

3

I.4 Sistematika Penulisan

BAB 1 Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

I.2 Rumusan Masalah

I.3 Tujuan

I.4 Sistematika Penulisan

BAB II Munculnya HIV/AIDS di berbagai Negara

II. 1 Sejarah Timbulnya HIV/AIDS

BAB III Mengenal Penyakit HIV/AIDS

III.1 Pengertian HIV/AIDS

III.2 Tahap-tahap infeksi HIV/AIDS

III.3 Gejala HIV/AIDS

III.4 Cara Mencegah Penularan HIV/AIDS

III.5 Cara Mengetahui Terinfeksi HIV/AIDS

III.6 Penyebaran HIV/AIDS

III.7 Efek Samping Obat HIV/AIDS

BAB IV Penutup

IV.1 Kesimpulan

IV.2 Saran

Daftar Pusaka

4

BAB II

MUNCULNYA HIV/AIDS DI BERBAGAI NEGARA

II.1 Sejarah Timbulnya HIV/AIDS

Pada tahun1983 bulan Januari, mulai muncul laporan mengenai AIDS di antara perempuan tanpa faktor risiko lain, yang memberi kesan bahwa penyakit dapat menular melalui hubungan heteroseksual. AIDS Candlelight Memorial pertama dilaksanakan di San Francisco, AS.

Pada bulan Mei, para dokter di Institute Pasteur di Prancis memisahkan sebuah virus baru yang mungkin penyebab AIDS. Virus ini disebut virus terkait limfadenopati (lymphadenopathy-associated virus/LAV). Contoh dikirim ke CDC dan National Cancer Institute (NCI) di AS.

Di Eropa, ada dua epidemi AIDS, satu berhubungan dengan Afrika, sementara yang lain berhubungan dengan laki-laki gay yang pernah mengunjungi AS. Laporan resmi pertama tentang AIDS di Inggris dibuat oleh Departemen Kesehatan Inggris. Tiga orang di Inggris telah meninggal. Kematian orang Australia pertama karena AIDS dicatat di Melbourne.

Pada saat ini, dokter yang bekerja di bagian Zambia dan Zaire mengamati munculnya bentuk KS yang sangat ganas. Kanker ini adalah endemik di Afrika Tengah, tetapi sebelumnya hanya berlanjut secara perlahan dan menanggapi pengobatan dengan baik, sementara kasus baru tampaknya jauh berbeda, dan sering mematikan.

5

CDC AS coba memberi penenteram hati dengan mengumumkan bahwa penyebab AIDS tidak diketahui, tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh unsur yang disebarkan oleh hubungan seks dan melalui jarum suntik yang tercemar. Tidak ada bukti bahwa AIDS dapat menyebar melalui udara, atau melalui kontak sehari-hari.

Nanti dalam tahun ini, jumlah anak AIDS meningkat, dan ada kesepakatan bahwa anak itu memperoleh infeksi dari ibunya di dalam rahim atau saat persalinan. Juga, jelas virus penyebab AIDS dapat disebarkan melalui transfusi darah.

Konferensi AS pertama tentang AIDS dilaksanakan di Denver pada Juli. Sekelompok aktivis dengan AIDS masuk konferensi tersebut tanpa undangan, dan menyatakan pernyataan yang sekarang diketahui sebagai Asas Denver. Asas mulai dengan desakan agar “Kami menolak ditandai sebagai “korban”, istilah yang berbau kegagalan.”

Dr. Zubairi Djoerban melaksanakan penelitian terhadap 30 waria di Jakarta. Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejala klinis, Dr. Zubairi pastikan dua di antaranya terinfeksi.

Pada September, CDC menerbitkan anjuran pertamanya mengenai kewaspadaan untuk petugas layanan kesehatan untuk mencegah penyebaran AIDS. Di Inggris, orang yang mungkin rentan terhadap AIDS diminta agar tidak mendonasi darah. AIDS telah dilaporkan di 33 negara. 3.000 orang AS AIDS, di antaranya 1.283 telah meninggal.

6

Pada tahun 1984 bulan April, pemerintah AS mengumumkan bahwa Dr. Robert Gallo di NCI telah memisahkan retrovirus penyebab AIDS dan itu diberi nama HTLV-III. Diumumkan bahwa sebentar lagi akan tersedia tes darah yang dapat menemukan antibodi terhadap virus.

Sekretaris Health and Human Service AS, Margareth Heckler, meramalkan secara yakin bahwa epidemi akan cepat selesai. Dia berkata “akan ada vaksin dalam beberapa tahun dan obat yang menyembuhkan AIDS sebelum 1990”. Ada kemungkinan besar bahwa HTLV-III adalah sama dengan LAV yang ditemukan oleh Pasteur Institute.

Gaetan Dugas, yang disebut “pasien nol”, meninggal dunia. Dia dianggap orang yang “membawa” AIDS ke Amerika Utara. Sebetulnya istilah pasien nol timbul akibat kesalahpahaman; pada awal dia disebut “pasien O’ untuk ‘Out of California (di luar California)’, tetapi dibaca ‘pasien 0’.

Di San Francisco, AS, semua “tempat pemandian” kaum gay ditutup. Para peneliti yang mengunjungi Afrika Tengah melaporkan ditemukannya 26 pasien dengan AIDS di Kigali, Rwanda, dan 38 di Kinshasa, Zaire. Penelitian di Rwanda menyimpulkan bahwa keterkaitan antara lingkungan perkotaan, penghasilan yang relatif tinggi, dan ‘seks bebas’ adalah faktor risiko untuk AIDS di Afrika. Penelitian di Zaire menemukan kemungkinan besar ada kaitan dengan penyebaran heteroseksual.

7

Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) di AS menyetujui tes diagnosis AIDS dari Gallo yang didasarkan teknik Western blot. Segera setelah itu perangkat tes antibodi komersial pertama disetujui. Nanti dalam tahun ini Institute Pasteur mengajukan tuntutan perkara melawan NCI, menuntut pembagian royalti dari tes darah AIDS yang telah dipatenkan oleh NCI. Ada kekhawatiran mengenai beberapa masalah sosial dan etika terkait tes baru. Terutama adalah masalah terkait kerahasiaan dan artinya/dampak hasil tes yang positif.

RSCM dan FK-UI membentuk satuan tugas untuk mengkaji masalah AIDS, yang dikenal sebagai POKDISUS AIDS. Konferensi internasional pertama tentang AIDS dilaksanakan di Atlanta, AS, dihadiri oleh 2.000 peserta.

8

BAB III

Mengenal Penyakit HIV/AIDS

III.1 Pengertian HIV/AIDS

HIV adalah kependekatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kehilangan daya tahan dan mudah terserang berbagai penyakit. HIV dengan perantaraan darah, sperma atau cairan vagina, masuk ke dalam aliran pembuluh darah. Kemudian HIV merusak sistem kekebalan tubuh individu. Setelah beberapa tahun jumlah HIV semakin banyak sehingga sistem kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan bibit penyakit yang masuk.

Bila sistem kekebalan tubuh kita sudah rusak atau lemah, maka kita akan terserang oleh berbagai penyakit sisekitar kita. Seseorang yang telah terinfeksi HIV belum tentu terlihat sakit. Secara fisik dia akan sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.

AIDS adalah singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrom yang artinya kumpulan berbagai penyakit yang menyerang tubuh karena melemahnya daya tahan tubuh akibat terserang virus HIV.

9

Penyakit yang tadinya tidak berbahaya, akan menjadi sangat berbahaya untuk orang tersebut. Karena sistem kekebalan tubuhnya menjadi sangat lemah. Ketika individu sudah tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh maka semua penyakit dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Kumpulan berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia.

Orang yang baru terpapar HIV belum tentu menderita AIDS. Hanya saja lama kelamaan sistem kekebalan tubuhnya makin lama semakin lemah yang ditandai dengan penurunan sel CD4 T dalam darah(<200/mm3)>1000/mL), sehingga semua penyakit dapat masuk ke dalam tubuh. Pada tahapan itulah penderita disebut sudah terkena AIDS.

10

III.2 Tahap-tahap infeksi HIV/AIDS

Seseorang dapat dikatakan HIV/AIDS apabila melalui tahap yaitu :

Tahap Pertama :

Seseorang sudah terinfeksi HIV tetapi belum terdeteksi ole tes darah. Tahap ini akan berlangsung sekitar 1-6 bulan sejak seorang terpapar HIV. Pada tahap ini HIV sudah dapat ditularkan.

Tahap Kedua

Berlangsung sekitar 2-10 tahun setelah seseorang terinfeksi HIV. Pada tahap kedua ini tes darah akan menunjukkan hasil positif HIV tetapi belum menampakkan gejala sakit, tetapi sudah dapat menularkan pada orang lain.

Tahap Ketiga

Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit misalnya berkeringat yang berlebihan pada malam hari, diare terus-menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang sehingga berat badan mulai berkurang. Pada tahap ini kekebalan tubuh akan berkurang.

11

Tahap Keempat

Sudah masuk pada fase keempat AIDS baru dapat terdiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-T nya. Timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu kanker, khususnya sariawan, kanker kulit atau sarcoma kaposi, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, infeksi usus yang menyebabkan diare parah berminggu-minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala. Fase kempat ini ditandai dengan penurunan kekebalan tubuh dimana jumlah sel limfosit CD4 T hingga 200 /mm3 atau kurang dan jumlah beban virus HIV semakin bertambah(1000 copy virus/mL) .

III.3 Gejala HIV/AIDS

Gejala umum HIV/AIDS pada pria yaitu nyeri saat kencing, terdapat luka tetapi tidak sakit, badan nyeri, nyeri sendi pada daerah terinfeksi, demam, timbul kutil pada daerah terinfeksi. Sedangkan gejala khusus HIV/AIDS pada pria yaitu terasa gatal, keluar cairan bening berwarna kuning atau kehijauan dan bau pada kemaluan, tampak kelainan kulit berupa luka besar seperti cacar yang berukuran bulat 2-5 mm, tampak kulit selaput mata berwarna kuning, pada penderita yang sudah menunjukkan gejala AIDS nampak gejala yang sangat kompleks yang sulit dibedakan dengan penderita kanker stadium lanjut.

Gejala umum HIV/AIDS pada perempuan yaitu nyeri pada kemaluan namun kadang tidak ada keluhan, terdapat luka tetapi tidak sakit , nyeri saat kencing, timbul kutil pada daerah terinfeksi, badan lemas.

12

Sedangkan gejala khusus HIV/AIDS pada perempuan yaitu terasa gatal, keluar cairan bening berwarna kuning atau kehijauan dan bau pada kemaluan, keluar cairan kental berlebihan namun sering tanpa gejala,tampak kelainan kulit berupa luka besar seperti cacar yang berukuran bulat 2-5 mm, tampak kulit selapu mata berwarna kuning.

Pada penderita yang sudah menunjukkan gejala AIDS nampak gejala yang sangat kompleks yang sulit dibedakan dengan penderita kanker stadium lanjut.

III.4 Cara Mencegah Penularan HIV/AIDS

Cara mencegah HIV/AIDS pada orang dewasa terutama adalah dengan tidak membiarkan darh atau cairan kelamin masuk ke dalam tubuh kita. Masih banyak cara mencegah penularan HIV/AIDS yaitu :

  • Mencari informasi yang lengkap dan benar yang berkaitan dengan HIV/AIDS
  • Mendiskusikan secara terbuka permasalahan yang sering dialami remaja dalam hal ini tentang masalah perilaku seksual dengan orang tua, guru, teman maupun orang yang memang paham mengenai hal ini.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tattoo dan tindik
  • Tidak berhubungan seks sebelum menikah sehingga tidak ada cairan yang masuk ke dalam tubuh.
  • Tidak melakukan kontak langsung percampuran darah dengan orang yang sudah terpapar HIV

13

  • Menghindari perilaku yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab
  • Cegah infeksi dengan menggunakan pengaman.
  • Mencegah masuknya transfusi darah tambahan yang belum diperiksa kebersihannya.
  • Berhati-hati dalam menangani segala hal yang tercemar oleh darah segar.
  • Mencegah pemakaian alat-alat tembus kulit yang tidak suci hama atau tidak steril terhadap diri kita. Misalnya jarum suntik.

III.5 Cara Mengetahui Terinfeksi HIV/AIDS

Tes HIV/AIDS merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi atau belum. Untuk melakukan tes HIV, harus disertai dengan konseling pratest. Apabila tes yang dilakukan menunjukkan hasil negative, posif, meragukan, konseling juga harus dilakukan. Konseling ini disebut dengan konseling pasca tes HIV. Konseling adalah hubungan kerjasama antara konselor dan klien untuk membantu menyelesaikan masalah yang akan dihadapinya. Konseling bertujuan menolong klien membuat keputusan untuk mengubah perilakunya menjadi perilaku yang sehat, bertanggungjawab, dan kemauan untuk mempertahankan perilakunya yang baru, maupun kemampuan menghadapi masa depan dengan lebih positif.

14

III.6 Penyebaran HIV/AIDS

Berikut ini adalah persepsi yang umum terjadi tentang penyebaran HIV:

· HIV di lingkungan
Para ilmuan dan ahli medis melaporkan bahwa virus HIV tidak dapat bertahan dengan baik di lingkungan luar walaupun dapat ditemukan di darah, cairan semen, cairan vagina, ASI, air ludah dan air mata.

· Peralatan rumah tangga atau serumah dengan orang terinfeksi
Penularan ini dipercaya hasil dari alat yang terkena darah penderita. Oleh karena hal tersebut harus dihindari terpajan darah penderita yang terkena virus HIV. Cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan sarung tangan saat kontak dengan darah atau cairan tubuh yang kemungkinan mengandung komponen darah seperti urine, feses atau muntah, kulit yang terluka tutupi dengan perban, tangan atau bagian dari tubuh yang lain harus langsung dicuci setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya dan peralatan yang terkena harus segera didisinfektan, hindari memakai benda yang dapat kontak dengan darah penderita seperti pisau cukur atau sikat gigi dan yang terpenting hindari pemakaian jarum suntik bersama.

15

· Dunia kerja
Tidak ada ditemukan transmisi antara pekerja yang menderita HIV yang bekerja di industri makanan dengan konsumen yang kontak dengan mereka. Penata rambut, pencukur rambut, ahli kosmetik dan ahli fisioterapi diharuskan untuk menggunakan instrumen sekali pakai yang digunakan ke kulit dan dapat melukai kulit seperti alat untuk mentato, jarum akupuntur, penindik telinga. Insidens penyakit AIDS pada petugas kesehatan yang terpajan HIV lewat cedera tertusuk jarum suntik diperkirakan kurang dari 1%.

· Air liur, air mata dan keringat
HIV dapat ditemukan di air liur, dan air mata dalam jumlah yang sedikit pada beberapa klien yang terinfeksi AIDS. Ini sangat penting di mengerti walaupun ditemukan virus HIV dalamn jumlah sedikit didalam cairan tubuh bukan berarti HIV dapat ditularkan melalui cairan tubuh. Virus HIV tidak ditemukan di keringan orang yang terinfeksi. Kontak dengan air liur, air mata, keringat tidak menyebabkan penularan virus.

· Gigitan nyamuk
Gigitan nyamuk tidak terbukti dapat menularkan virus HIV karena virus HIV tidak dapat bertahan dan bereproduksi dalam tubuh nyamuk.

· Keefektifan kondom
Kondom dapat mengurangi penyebaran penyakit menular seksual termasuk HIV namun hanya latex atau polyurethane kondom yang daya cegah yang efektif sedangkan kondom yang dipakai sebagai alat kontrasepsi yang berasal dari membran alami (lamb skin) tidak dapat mencegah masuknya virus HIV.

16


Dari wacana diatas dapat kita simpulkan bahwa HIV ini sangat mudah ditularkan melalui hubungan seksual, pemakaian jarum suntik bersama dan dari ibu ke anak yang dikandungnya. Virus HIV menyebabkan masa depan menjadi suram karena daya tahan tubuh secara berangsur-angsur tapi pasti menurun drastis. Kalimat yang tidak bisa ditawar-tawar adalah ”say no to drug and free sex”. Selamatkan masa depan bangsa yang berada ditangan kita sebagai generasi muda.

III.7 Efek Samping Obat HIV/AIDS

Para peneliti telah menemukan petunjuk baru mengenai mengapa obat AIDS yang digunakan secara luas memiliki efek samping tertentu seperti penimbunan lemak secara misterius.

Paralel antara efek samping protease inhibitors (komponen penting dalam campuran obat HIV) dan kondisi genetika yang mengakibatkan penuaan dini mungkin dapat membantu menjelaskan pengendapan lemak yang seringkali membuat lemah pasien dan hasil lain.

Protease inhibitors dapat mengakibatkan gangguan metabolisme seperti penimbunan tak sehat kolesterol di dalam darah, tekanan darah tinggi, dan meningkatnya resiko diabetes.

17

Zat tersebut juga memicu kondisi yang disebut lipodystrophy yang merupakan pembagian kembali secara aneh lemak sehingga pipi dan anggota tubuh lain pasien tertimbun lemak, dan adanya lemak buffalo hump yang ada di punggung serta tengkuk.

Para dokter telah lama bertanya-tanya mengenai bagaimana protease inhibitors dan obat lain HIV dapat mengakibatkan efek samping semacam itu, yang terjadi pada puluhan ribu pengguna obat di seluruh dunia, kata Dr. Charles Flexner dari John Hopkins University School of Medicine.

Dalam upaya untuk mengungkap kondisi itu, satu kelompok ilmuwan dari University of California Los Angeles dan Purdue University di Indiana menggunakan protease inhibitors pada sel tikus dan manusia, dan mendapati bahwa zat tersebut mengendapkan bentuk khusus gumpalan protein yang disebut prelamin A.

Obat itu memicu kondisi tersebut dengan menghalangi gerakan protein lain (ZMPSTE24) yang mengubah prelamin A menjadi bentuk yang bermanfaat, demikian laporan mereka dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Sel-sel, tingkat ZMPSTE24 menjadi lebih rendah saat pasien mulai menggunakanprotease inhibitors.

18

Christine Hrycyna dari Purdue University, yang terlibat dalam studi tersebut, mengatakan terhalangnya protein itu mungkin memberi sumbangan bagi efek samping metabolis dari protease inhibitors.

Pasien dengan gejala penuaan dini, termasuk Hutchinson-Gilford progeria, memiliki gejala yang menyerupai efek samping tersebut, dan protein yang sama tertimbun di dalam sel mereka, kata Hrycyna. Namun tidak jelas bagaimana itu dapat berdampak pada metabolisme, katanya.

Para peneliti tersebut juga menguji coba sebagian obat lain yang biasa digunakan dalam campuran obat AIDS, yang dikenal sebagai terapi anti-retrovirus yang sangat aktif, atau HAART. Tetapi obat lain tak menimbulkan penimbunan protein yang sama, bahkan sekalipun obat itu dapat menimbulkan dampak serupa pada orang, kata para peneliti tersebut.

Para peneliti tersebut sekarang ingin melihat apakah teori mereka memiliki kebenaran pada pasien HIV, dan jika berbagai versi protease inhibitors yang tak menghalangi ZMPSTE24, mungkin menimbulkan efek samping yang lebih sedikit pada semua pasien itu.

19

Adapun obat untuk penderita HIV/AIDS, sebagai berikut :

Ø Obat ARV (Anti Retro Viral) dapat mengendalikan pertumbuhan jumlah HIV dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk memperpanjang usia hidup Odha (Orang dengan HIV dan AIDS).

Ø Obat ARV tidak dapat menyembuhkan Odha karena tidak bisa menghilangkan HIV dalam tubuh.

Ø Odha harus minum obat ARV secara rutin pada jam tertentu, setiap hari dan seumur hidup.

20

BAB IV

PENUTUP

IV.1 Kesimpulan

Seseorang yang terkena penyakit HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan, adapun obatnya yaitu obat protease inhibitors (komponen penting dalam campuran obat HIV) dan kondisi genetika yang mengakibatkan penuaan dini mungkin dapat membantu menjelaskan pengendapan lemak yang seringkali membuat lemah pasien dan hasil lain. Protease inhibitors dapat mengakibatkan gangguan metabolisme seperti penimbunan tak sehat kolesterol di dalam darah, tekanan darah tinggi, dan meningkatnya resiko diabetes.

IV.2 Saran

Berdasarkan hasil penilitian HIV/AIDS kami menyarankan :

  • Hendaknya tidak melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan tanpa pengaman.
  • Jangan menggunakan satu jarum suntik secara bergantian atau menggunakan jarum bekas.
  • Tidak melakukan transfusi darah apabila darah tersebut sudah tercemar HIV.

21

DAFTAR PUSTAKA

Harris, Robie H. (1996). Changing Bodies, Growing Up, Seks and Seksual Health: It’s Perfectly Normal. Cambridge, IVID: Candlwwick Press, first paperback edition 1996

Moeliono, Laurike (2001). Pemahaman Masalah Seksualitas Remaja, Kesehatan Reproduksi Remaja dan Kaitannya Dengan Penularan HIV. Materi Diskusi Diperguruan Al-Azhar 12 November 2001

Widaninggar, W;Ananto, R led (2003). Pedoman Modul Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat Untuk Pencegahan HIV/AIDS di SMA dan Yang Sederajat. Departemen Pendidikan Nasional Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani, Jakarta

www.univrab.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=44

22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar